Navigasi Utama

Kecakapan Etik Dalam Penggunaan Teknologi:Tuntutan Keteladanan Seorang Guru Di Era Digital

Kecakapan Etik Dalam Penggunaan Teknologi:Tuntutan Keteladanan Seorang Guru Di Era Digital

Tual,Liputan TriSatya - Menjadi Guru pada zaman media sosial ini Ternyata jauh lebih Rumit daripada sekadar berdiri di depan kelas. Dahulu, Keteladanan Seorang Guru dilihat dari bagaimana ia Mengajar, Berbicara, Berpakaian, dan Berinteraksi dengan Murid. Hari ini, Jejak itu meluas sampai ke layar Telepon Genggam. Apa yang diunggah, dikomentari, bahkan direkam orang lain dapat dengan cepat menjadi Konsumsi Publik. Ada pertanyaan seputar Dunia Pendidikan yang jauh lebih penting: Apa yang terjadi ketika Seseorang yang setiap hari mengajarkan Nilai justru mempertontonkan Perilaku yang bertentangan dengan Nilai yang diajarkan? Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Tual Samsudin Rumaf S.Pd kepada Media ini di Tayando Yamtel Senin 14 September 2026. 

Menurut Rumaf, Pertanyaan ini Sangat Relevan sebab saat ini Kita Hidup di Zaman dimana setiap orang membawa Telepon Genggam di Sakunya. Kesalahan yang dahulu mungkin hanya diketahui beberapa orang, sekarang dapat berpindah dari satu Telepon Genggam ke Telepon lainnya dalam hitungan Menit bahkan Detik. Sekolah tidak lagi memiliki Tembok yang benar-benar mampu memisahkan ruang Pendidikan dari ruang Publik. Guru boleh pulang setelah jam pelajaran berakhir. Namun, Keteladanan yang melekat dalam Dirinya Tidak akan Pernah Offline.

Mari Kita Realistis saja, saat ini Peserta Didik Kita tumbuh dalam Ekosistem Digital dan menghabiskan sebagian kehidupannya di ruang tersebut. Banyak guru telah membuktikan bahwa media sosial dapat menjadi ruang pendidikan yang luar biasa. Materi yang dahulu hanya didengar 30 siswa dalam sebuah kelas sekarang dapat menjangkau ribuan orang. Guru Matematika membuat Rumus terasa sederhana, Guru Sejarah menghidupkan kembali peristiwa masa lalu, sementara Guru Agama dan Kewarganegaraan membawa percakapan tentang nilai ke ruang yang lebih dekat dengan Generasi Muda. Masalahnya Bukan Guru bermain media sosial atau tidak. Masalah muncul ketika logika media sosial mulai mengalahkan kesadaran sebagai Pendidik. Keinginan mendapatkan Likes, Komentar, Pengikut, dan menjadi Viral kadang membuat batas antara Ekspresi Pribadi dan Martabat Profesi semakin Tipis. 

Kita tentu tidak perlu mempermasalahkan setiap Guru yang Berjoget di TikTok. Guru Bukan Manusia Tanpa Kehidupan Pribadi. Mereka boleh Bercanda, Bernyanyi, Menari, Berlibur, memiliki Hobi, dan menunjukkan sisi lain Kehidupannya. Akan tetapi, Kebebasan Berekspresi tidak pernah hidup sendirian. Ia selalu ditemani Kesadaran tentang Konteks dan Konsekuensi. Persoalan menjadi Berbeda ketika Konten dibuat saat pembelajaran berlangsung, melibatkan Peserta Didik tanpa pertimbangan Privasi, membawa Identitas Sekolah, Mengandung unsur Tidak Pantas, atau memperlihatkan Perilaku yang justru bertentangan dengan Nilai yang diajarkan kepada Murid. 

Sudah menjadi Kodrat bahwa seorang Guru itu Perkataannya Dipercaya, Perilakunya Dicontoh. Di era Media Sosial, makna ungkapan Guru digugu Guru ditiru Tidak lekang oleh Jaman. Ruangnya justru semakin Luas. Peserta Didik tidak lagi mengenal Gurunya hanya dari Interaksi di Sekolah. Mereka dapat menemukan akun media sosial Gurunya, melihat unggahannya, membaca Komentarnya, bahkan menyaksikan bagaimana Gurunya merespons perbedaan pendapat di ruang Digital. Di sinilah teori pembelajaran sosial Albert Bandura masih terasa sangat Relevan. 

Manusia Belajar Bukan hanya melalui nasihat, melainkan juga dengan mengamati Perilaku orang lain. Bagi seorang anak, Guru adalah salah satu figur Dewasa yang Perilakunya memiliki Daya Didik yang membekas seumur Hidup. Samsudin Rumaf yang juga seorang Peraih Guru Inovatif Award ini menyebut kebutuhan tersebut sebagai Keteladanan Digital Guru (Digital Teacher Exemplarity). 

Sederhananya, Keteladanan Digital merupakan Kemampuan Seorang Pendidik Menjaga Konsistensi antara Nilai yang ia Ajarkan di Ruang Kelas dan Perilaku yang Dia Tampilkan di Ruang Digital. Bukan berarti akun media sosial Guru harus berubah menjadi papan pengumuman Sekolah. Bukan pula berarti setiap unggahan harus berisi Petuah Moral. Keteladanan Digital justru dimulai dari hal Sederhana, yakni mengetahui Batas, Menghormati Privasi, menjaga Komunikasi dengan Peserta Didik, memahami Jejak Digital, dan Menyadari Konsekuensi dari apa yang Dipublikasikan. 

UNESCO melalui panduan Global Citizenship Education in a Digital Age juga menempatkan Pendidik dalam Posisi Penting untuk mempersiapkan Peserta Didik agar mampu bertindak secara Etis dan Bertanggung jawab, baik di Dunia Fisik maupun Digital. Ini berarti Kompetensi Digital seorang Guru Tidak cukup diukur dari Kemampuan Menggunakan Aplikasi Pembelajaran atau membuat Presentasi menarik. Ada Kompetensi yang lebih Mendasar, yakni Kecakapan Etik dalam menggunakan Teknologi. Di tengah tuntutan itu, ada satu hal yang menurut saya juga perlu ditegaskan: Jangan menjadikan keteladanan sebagai alasan untuk menghilangkan kehidupan pribadi guru. 

Kita terkadang menempatkan Guru pada standar Moral yang nyaris Mustahil. Ingatlah Bahwa Guru Bukan Malaikat Tanpa Noda, Sedikit Kesalahan Direkam, Disebarkan, Kemudian Dihakimi Ramai-Ramai di media sosial. Padahal guru juga manusia. Mereka bisa Lelah, Keliru, Memiliki persoalan Pribadi, dan membutuhkan ruang Privat. Oleh karena itu, Keteladanan Digital Tidak Boleh Berubah menjadi Pengawasan Moral Terhadap Seluruh Kehidupan Guru. Yang kita perlukan Bukan Guru yang berpura-pura Sempurna, melainkan Guru yang memiliki Kesadaran Profesional. 

Ada perbedaan antara Kesalahan Manusiawi dan Tindakan yang Merusak Martabat Profesi, Melanggar Hak Peserta Didik, atau Bertentangan dengan Tanggung Jawab seorang Pendidik. Di sinilah Sekolah dan Lembaga Pendidikan dituntut untuk lebih Berperan. Pendidikan Digital Bagi Guru jangan Berhenti pada pertanyaan, "Aplikasi apa yang bisa digunakan untuk Mengajar? " Kita perlu mulai bertanya, "Bagaimana seorang Pendidik seharusnya Hidup di Dunia Digital?" Pelatihan Guru perlu menyentuh Persoalan Etika Media Sosial, Privasi Peserta Didik, Batas Komunikasi Guru dan Siswa, Jejak Digital, Pembuatan Konten, hingga Penggunaan Kecerdasan Buatan. Pasalnya, Teknologi Berkembang Jauh lebih Cepat daripada Kebiasaan Etik Kita dalam Menggunakannya tutup Rumaf yang juga Peraih Award Guru Inspiratif Tingkat Nasional Tahun 2017.

Link berhasil disalin!
+