Navigasi Utama

Mengajar Dengan Hati Lewat Pola Kontekstual Ala Deep Learning

Mengajar Dengan Hati Lewat Pola Kontekstual Ala Deep Learning

Tual,Liputan TriSatya - Menjadi guru SMA tentu bukan sekadar rutinitas mengajar, mencatat nilai, atau menuntaskan daftar administrasi. Pada jenjang ini, guru berada pada fase penting sebenarnya dalam perkembangan Remaja, saat para siswa membentuk jati diri, cara pandang, serta kebiasaan belajar yang akan mereka bawa hingga Dewasa. Karena itu, ruang kelas tidak lagi hanya menjadi tempat menyampaikan materi, tetapi juga ruang bertumbuh di mana Karakter, Kemandirian, dan Pola Pikir Kritis dibentuk. 

Di sinilah pentingnya menghadirkan pembelajaran yang mendalam, pembelajaran yang bukan hanya menghafal, tetapi menginspirasi. Bukan sekadar memahami konsep, tetapi mampu menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Penjelasan Tersebut disampaikan Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Tual Samsudin Rumaf S.Pd saat ditemui Media ini di Ruangannya Senin 12 Oktober 2026.

Sebagai Guru, Dirinya percaya bahwa pembelajaran mendalam tidak lahir dari strategi rumit, melainkan dari ketulusan mengajar. Sejak awal saya memasuki kelas dan menatap wajah-wajah remaja yang penuh potensi, saya selalu mengingat pesan Ki Hajar Dewantara bahwa tugas guru bukan semata memerintah atau mengisi, melainkan “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya” ujar Mantan Kepala SMK Negeri 1 Tual ini. 

Kutipan itu menjadi pegangan para Guru bahwa pembelajaran harus menuntun, bukan mengarahkan secara kaku. Pembelajaran harus memberdayakan, bukan membatasi. Saat mengajar, Guru sering merasa bahwa siswa membutuhkan lebih dari sekadar penjelasan panjang atau slide materi. Mereka membutuhkan ruang untuk bertanya, berdiskusi, gagasan yang menantang, dan menemukan makna dari apa yang mereka pelajari. Pembelajaran bermakna, selalu berawal dari relasi yang hangat antara Guru dan Murid. 

Rumaf meyakini bahwa siswa akan belajar lebih dalam ketika mereka merasa dihargai, dilihat, dan didukung. Untuk itu Setiap awal Tahun Pelajaran, sebaiknya para Guru menyediakan waktu khusus untuk mengenal siswa secara personal: cara belajar mereka, mimpi yang mereka punya, dan hal-hal kecil yang membuat mereka merasa aman di kelas. Upaya sederhana ini terbukti membuat suasana belajar lebih terbuka dan cair, dan ini sejalan dengan gagasan bahwa iklim kelas berpengaruh besar terhadap motivasi belajar Pembelajaran kontekstual semacam ini dinilai mampu meningkatkan pemahaman jangka panjang karena mempertemukan Konsep dengan Realitas. Mereka tidak hanya Belajar dari Buku, tetapi dari apa yang mereka lihat dan alami.

Link berhasil disalin!
+